Beranda | Artikel
Khutbah Jumat Singkat: Tiga Perkara yang Diridhai dan Dibenci Allah
18 jam lalu

Khutbah Jumat Singkat: Tiga Perkara yang Diridhai dan Dibenci Allah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada 15 Rabiul Awal 1448 H / 28 Agustus 2026 M.

Khutbah Jumat Pertama: Tiga Perkara yang Diridhai dan Dibenci Allah

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلاَثًا: يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا، وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلاَّهُ اللهُ أَمْرَكُمْ

“Sesungguhnya Allah menyukai tiga perkara untuk kalian dan membenci tiga perkara untuk kalian. Allah menyukai bagi kalian agar beribadah kepada-Nya saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, berpegang teguh kepada tali Allah bersama-sama dan tidak bercerai-berai, serta saling memberi nasihat kepada orang yang Allah jadikan pemimpin di antara kalian.”

وَيَكْرَهُ لَكُمْ: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Dan Allah membenci tiga perkara untuk kalian. Berita bohong atau kabar burung yang tidak jelas kebenarannya, banyak bertanya hal yang tidak bermanfaat, menyia-nyiakan harta.” (HR. Muslim)

    Hadits ini selayaknya diperhatikan dan dipelajari karena berisi hal-hal yang diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Setiap muslim wajib mencari apa yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjauhi dan meninggalkan apa yang dibenci-Nya.

    Perkara pertama yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah beribadah kepada-Nya saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Karena sesungguhnya syirik merupakan kedzaliman yang paling besar. Tidak ada kedzaliman yang lebih besar daripada perbuatan syirik. Maka siapa pun yang berbuat syirik tidak akan diampuni oleh Allah ‘Azza wa Jalla kecuali jika ia bertaubat.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

    “Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya adalah neraka.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 72)

    Setiap muslim wajib mempelajari hakikat ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu menghambakan diri dengan sebenar-benarnya penghambaan, tunduk, dan patuh yang disertai rasa pengagungan serta cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Orang yang menghambakan dirinya kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hamba yang paling bodoh di dunia. Hakikat selain Allah hanyalah makhluk yang tidak dapat memberikan manfaat maupun mudharat. Dzat yang dapat memberikan manfaat, mudharat, rezeki, serta yang menciptakan langit dan bumi hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka orang yang menghambakan dirinya kepada selain Allah berarti telah menghambakan diri kepada makhluk yang lemah.

    Perkara kedua yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah berpegang teguh kepada tali Allah. Tali Allah adalah Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al-Qur’an dan sunnah harus dipegang teguh sesuai dengan pemahaman salaful ummah. Siapa pun yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah pasti akan mendapatkan petunjuk.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ

    “Dan bagaimana kamu sampai menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu?” (QS. Ali ‘Imran[3]: 101)

    Meskipun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah wafat, sunnah beliau tetap ada. Ayat ini menjadi jaminan bagi siapa saja yang mempelajari Al-Qur’an dan sunnah serta mengikuti keduanya, tidak akan menjadi kafir hingga akhir hayat. Oleh karena itu, waktu yang ada hendaknya digunakan untuk mengkaji Kitabullah, mengkaji sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta mengamalkannya dalam kehidupan.

    Perkara ketiga yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah saling memberi nasihat kepada orang yang Allah jadikan sebagai pemimpin. Para ulama menjelaskan bahwa nasihat kepada pemimpin bermakna menyikapi pemimpin dengan benar, sebab keberadaan pemimpin adalah untuk didengar dan ditaati.

    Menaati pemimpin merupakan kewajiban selama perintahnya sesuai dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tidak boleh menaati pemimpin dalam hal kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara bentuk nasihat kepada pemimpin adalah meluruskan kesalahan mereka dengan cara yang benar.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْبِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَ إِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

    “Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia terang-terangan (di hadapan manusia). Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila si penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya.” (HR. Ahmad, Al-Hakim)

    Nasihat kepada pemimpin disampaikan secara rahasia, bukan dengan cara demonstrasi atau tindakan yang tidak dibenarkan. Menjelek-jelekkan penguasa di media sosial atau secara terang-terangan bukan cara Islam, melainkan bagian dari sifat kaum Khawarij dan perkara yang diridhai oleh orang-orang Barat. Itu bukan ajaran agama kita, saudaraku seiman.

    Bentuk nasihat lainnya kepada pemimpin adalah bersabar menghadapi kedzaliman mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ

    “Barang siapa melihat sesuatu yang tidak disukainya dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar.” (HR. Bukhari)

    Sabar artinya menahan diri dan mendoakan pemimpin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah serta taufik kepadanya. Adapun mengaku bersabar tetapi menggunakan perkataan kasar, kotor, dan melakukan perbuatan anarkis sama sekali bukan bagian dari ajaran Islam. Setiap muslim wajib mengikuti hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bukan mengikuti hawa nafsu.

    Alhamdulillah.. Pemimpin kita tidak melarang pelaksanaan shalat, shalat Jumat, adzan, puasa Ramadhan, maupun shalat hari raya. Jika terdapat kesalahan yang tidak diridhai, kewajiban yang harus dilakukan adalah bersabar, mendoakan mereka, serta membantu mereka dalam kebaikan. Memprovokasi massa dan membuat rakyat marah kepada penguasanya bukanlah sifat seorang muslim, melainkan sifat kaum Khawarij yang disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai:

    كِلَابُ النَّارِ

    “Anjing-anjing penghuni neraka.” (HR. Ibnu Majah)

    Demikianlah tiga perkara yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Khutbah Jumat Kedua: Tiga Perkara yang Diridhai dan Dibenci Allah

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    مَنْ أَهَانَ السُّلْطَانَ أَهَانَهُ اللَّهُ

    “Barang siapa yang menghinakan penguasa, maka Allah akan menghinakannya.” (HR. Tirmidzi)

    Tidakkah Anda takut Allah menghinakanmu di dunia dan akhirat akibat perbuatan menghinakan penguasa? Bukankah sikap yang lebih baik adalah mendoakan penguasa agar diberi hidayah dan taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?

    Tiga perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Perkara pertama yang dibenci adalah qila wa qal, yaitu kabar burung yang tidak diketahui kebenarannya. Banyak orang yang sangat mudah menerima berita seperti ini tanpa melakukan tabayyun (klarifikasi) dan tasabbut (kroscek), terlebih pada zaman yang penuh dengan berita rekayasa. Hati tidak boleh dijadikan seperti kantong sampah yang mudah menerima berita sembarangan.

    Al-Qur’an mengajarkan akhlak ketika menerima sebuah kabar melalui firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

    “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyun).” (QS. Al-Hujurat[49]: 6)

    Perkara kedua yang dibenci adalah katsratas su’al, yaitu banyak bertanya. Banyak bertanya sering kali menjatuhkan seseorang pada pertanyaan yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti mempertanyakan perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

    “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, melainkan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya`[21]: 23)

    Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak boleh dipertanyakan atas apa yang dilakukan-Nya karena mustahil bagi Allah Subhanahu wa Ta meyakini perbuatan dzalim, bodoh, atau tidak adil. Seluruh perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla didasari atas ilmu dan hikmah, sedangkan manusia memiliki pengetahuan yang sangat terbatas. Setiap muslim wajib meyakini bahwa tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan sesuatu melainkan pasti ada hikmah yang diinginkan-Nya. Tapi ilmu kita sedikit untuk memahami hal itu.

    Perkara ketiga yang dibenci adalah idha’atal mal, yaitu menyia-nyiakan harta dengan menggunakannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat atau bersikap mubazir.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

    “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra`[17]: 27)

    Download mp3 Khutbah Jumat: Tiga Perkara yang Diridhai dan Dibenci Allah

    Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Tiga Perkara yang Diridhai dan Dibenci Allah” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.


    Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56502-khutbah-jumat-singkat-tiga-perkara-yang-diridhai-dan-dibenci-allah/